Menapak Jejak Mengenal Watak

Judul Buku : Menapak Jejak Mengenal Watak
Penerbit : Yayasan Saifuddin Zuhri


PENGANTAR

Oleh KH. A. Mustofa Bisri

SUATU malam di tanah suci pada tahun 1987, saya bersama kiai Sahal Mahfudz, Gus Dur, dokter Fahmi Saifuddin, dan Abdullah Syarwani, sowan dengan niat sulaturrahim dan ngaji ke kediaman tokoh alim dan penulis kenamaan di Timur Tengah berkebangsaan Indonesia, asy-al-Makky, rahimahullah.

Di antara yang menjadi pembicaraan dalam kesempatan silaturrahim itu adalah mengenai tokoh-tokoh ulama Indonesia yang menurut Syeikh Yasin―begitu panggilan akrab tokoh yang sangat dihormati ini―kualitas keulamaan mereka tidak banyak dikenal di dunia Islam karena tidak ada yang memperkenalkan mereka. Tulisan tentang mereka hampir tak ada.

Syeikh Yasin sendiri mempunyai rencana menu­lis Thabaqaat al 'Ulama al-Indonesia. Kitab tentang tokoh-tokoh ulama Indonesia. Bahkan satu jilid di antaranya telah rampung beliau tulis.

Namun ya itu, kata beliau, "kesulitannya adalah memperoleh bahan-bahan bagi penulisan tokoh-tokoh kiai tersebut. Dari kalangan pesantren sendiri, jarang sekali dijumpai tulisan tentang tokoh ulama".

"La coba saja," kata beliau, "anak-anak mereka sendiri dimintai bahan tentang orang tua mereka, nggak kunjung mengirimkannya!"

Memang. Entah mengapa budaya menulis, khususnya menulis sejarah kehidupan tokoh-tokohnya sendiri tidak berkembang di kalangan pesantren. Padahal semua menyadari pentingnya. Padahal khazanah mereka sarat dengan kitab-kitab tarikh kehidupan tokoh, baik tentang seorang tokoh maupun tentang sejumlah tokoh macam taraajim dan thabaqat-thabaqat.

Buku atau kitab tentang tokoh NU bisa dihitung dengan jari. Yang paling lengkap barangkali "Sedjarah Hidup KHA Wahid Hasim dan karanganTersiar" yang disusun oleh H. Aboebakar, Kepala Bagian "D" Kementrian Agama berdasarkan SK Menteri Agama RI (waktu itu, KH. Mohammad Ilyas).

Buku terjemah atau biografi lainnya yang saya ketahui adalah tentang KH. A. Wahab Chasbullah oleh Prof. KH. Saifuddin Zuhri; tentang KH. Bisri Syansuri oleh Gus Dur; tentang KH. Ma'shoem Lasem oleh Sayyid Haidar; tengtang KH. R. Asnawi, Kudus yang disusun oleh keluarga dalam rangka haul beliau.

Riwayat hidup Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy'ari justeru saya temukan belakangan dalam kitab cetakan Kuwait dan disusun oleh Sayyid Muhammad Asad Syihab dengan judul agak panjang: Al-'Allaamah Asy-Syeikh Muhammad Hasjim Asj'ari Waadli 'ulabinati istiqlaali Indonesia (Al-Allamah Kiai Muhammad Hasjim Asj'ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia).

Berbicara tentang "budaya tulis menulis" di kalangan NU, mungkin Pak Saifuddin Zuhri termasuk, kalau tidak satu-satunya, pengecualian. Beliau bukan saja penulis yang produktif, tapi juga aktif merekam sejarah tentang tokoh-tokoh kiai pesantren. Dari tangan beliau lahir banyak tulisan yang bukan saja sangat bermanfaat bagi NU dan warganya, tapi juga bangsa Indonesia secara umum. Fajazaahullahu 'anna ahsanal jaza.

Dari tangan beliau, muncul buku-buku antara lain: Almaghfurlah K.H. Abdul Wahab Chasbullah Bapak dan Pendiri NU yang sudah disinggung di atas, Guruku Orang-orang dari Pesantren, dan Berangkat dari Pesantren, sebuah otobiografi beliau sebagai pelaku dan pembuat di republik kita ini.

Maka tidaklah mengherankan―bahkan mungkin sudah seharusnya―jika sekaran ini, sebuah yayasan bernama Yayasan Saifuddin Zuhri menerbitkan suatu buku kumpulan tokoh-tokoh pesantren, tokoh-tokoh NU.

Barangkali seperti apa yang ingin ditulis Syeikh Yasin, Allah yarhamuh―seperti juga thabaqaat-thabaqaat yang lain―apa yang ingin dipersembahkan oleh Yayasan Saifuddin Zuhri adalah kumpulan biografi para tokoh dengan satu kriteria dasar, dalam hal ini adalah ke-kiaian (baca:ke-ulama-an, dan ke-Indonesia-an di NU).

Kiai mengenal banyak buku-buku atau kitab kumpulan tokoh-tokoh dengan satu kriteria dasar yang ― galibnya bisa dilihat dari judulnya ― seperti Thabaqaat-nya Syeikh Yasin itu. Ambil contoh Asad Al-Ghababah oleh Ibn al-Atsier tentang para sahabat Nabi; Tariekh al-Khulaffa oleh al-Hafifdh Jalaluddin as-Suyuthy dengan kriteria dasar ke-khalifah-an; Thabaqaat as-Shuufiyah oleh Abu Abdurrahman as-Sulamy dengan kriteria dasar ke-sufi-an; Jamharat al-Auliyaa oleh as-Sayyid Mahmoud Abu al-Faidi al-Manouty al-Husainy dengan kriteria dasar ke-wali-an; The 100, Rangking of the Most Influental Persons in History oleh Michael H. Hart (diterjemahkan oleh H. Mahbub Djunaidi dengan judul Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah) dengan kriteria dasar ke-berpengaruh-an (?) dalam sejarah; The Dictators oleh Jules Archer dengan kriteria dasar, tentu saja, ke-diktator-an; dan masih banyak lagi.

Kecuali bila kita akan menulis semua tokoh kia dan ini tentu tidak mungkin, maka kriteria dasar ke-kiai-an itu saja tentulah tidak cukup. Apalagi meski­pun sudah dipersempit dengan tambahan "NU", kriteria kiai ternyata tidak sejelas, misalnya, kriteria sahabat Nabi, kriteria khulafa, atau diktator.

Karena itu Yayasan Saifuddin Zuhri telah mene­tap­kan kriteria-kriteria lain, di samping kriteria ke-kiai-an tersebut, antara lain pernah menjadi pengurus syuriah, mustasyar NU atau jabatan struktural lain di dalam NU pada tingkat nasional atau lokal; sudah wafat dan diutamakan yang memimpin pesantren dan seterusnya.

Namun demikian, dengan menampilkan "hanya" 26 tokoh kiai, boleh jadi masih saja akan timbul pertanyaan seperti: kenapa hanya duapuluh enam? dan kenapa mereka itu yang ditampilkan?

Kalau benar akan ada pertanyaan demikian ya biar saja. Agaknya kita harus memaklumi kesulitan Yayasan Saifuddin Zuhri dan para penulisnya yang hampir seluruhnya angkatan muda. Rentang waktu yang cukup panjang dan sedikitnya literatur yang tersedia, merupakan alasan yang cukup masuk akal sebagai jawaban.

Barangkali bisa menjadi salah satu bukti bahwa dari 26 tokoh yang ditampilkan kali ini, uraian yang relatif lebih luas justeru menyangkut mereka yang hidup belakangan. Bandingkan misalnya, uraian tentang KH. Bisri Syansuri (1886-1980) dan KH. Machrus Ali (1906-1985) yang mencapai masing-masing 20 dan 21 halaman dengan misalnya, KH. Ridlwan Abdullah (1884-1962) yang hanya 12 halaman dan KH. Abbas, Buntet yang hanya 9 halaman saja.

Disamping itu, mungkin yang lebih penting lagi: tampaknya yayasan dan para penulisnya ― karena alasan yang barangkali sama ― juga mengalami kesulitan untuk menangkap "sudut pandang" yang tepat dalam membidik sosok masing-masing tokoh yang ditampilkan. Dan inipun, bila benar, juga bisa dimaklumi. Satu dan lain hal karena rata-rata tokoh yang ditampilkan memang memiliki tidak hanya satu "sudut keistimewaan" yang menonjol. Contoh yang segera dapat kita lihat adalah sosok tokoh KH. Hasyim Asy'ari. Beliau tidak hanya pendiri NU dan tokoh sentral yang memberi inspirasi perjuangan para kiai; apalagi sekadar pembela kaum bermadzhab. Mereka yang membaca Muqaddimah Qanun Asasi NU saja, akan segera tahu bahwa beliau lebih dari semua. (Bahkan Sayyid Muhammad Asad Shihab ― konon kakek dari Dr. Quraish Shihab ― menulis biografi beliau dalam bahasa Arab berjudul Al'Alamah Muhammad Hasyim Asy'ari Waadli'u Labinati Istiqlali Indonesia yang kalau diterjemahkan secara harfiah: Mahakiai Muhammad Hasyim Asy'ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia.

Namun itu semua bagi saya tidak mengurangi arti penting dari usaha penerbitan ini. Bahkan menurut saya, yang lebih penting dan pantas sekarang adalah mensyukuri terbitnya buku ini. Buku yang sudah lama dinanti dan sudah sering diusulkan oleh banyak warga NU sendiri di berbagai kesempatan. Penyempurnaan berikutnya akan dapat dilakukan atau malahan untuk itu, saya yakin, akan mendapat bantuan dari berbagai pihak yang telah membacanya.

Dengan demikian keteladanan para tokoh NU yang selama ini hanya menjadi "buah bibir" sepenggal-sepenggal dalam konteks mau'idhah atau nostalgia, akan dapat dibaca dan dipelajari dengan lebih intens dalam porsi yang lebih utuh.

Sekali lagi, kita semua sungguh mensyukuri dan sangat menghargai upaya dari pihak Yayasan Saifuddin Zuhri yang tak ternilai ini. Semoga ini dicatat Allah pula sebagai amal jariah yang lestari.

Dan mudah-mudahan buku ini masih akan "bersambung" bahkan menjadi semacam "serial tokoh NU" yang akan menyempurnakan manfaatnya bagi generasi NU khususnya dan masyarakat ramai pada umumnya.

Wallahu Yuwaffiquna ila ma fiehi khairul Islami wal muslimin


Daftar Isi

Sambutan Penerbit ……………………………………

Pengantar KH. A. Mustofa Bisri ………………….

Daftar Isi Oleh KH. A. Mustofa Bisri ……………

1. Kiai Cholil (1235 H-1343H)

Pencetak Kiai-kiai Besar Bertangan Dingin ……..

2. KH. R. Asnawi )1861-1959)

Membentengi Ahlussunnah wal-Jama'ah ………..

3. Hasan Gipo (1869-1934)

Ketua Tanfidziyah NU Pertama ……………………..

4. KH. Ma'shum (1870-1972)

Pengawal Tradisi Fiqih Sunni ……………………….

5. KH. Muhammad Hasyim Asy'ari (1871-1947)

Bapak Kaum Santri, Pembela Tanah Air ………….

6. KH. Mas Abdurrahman (1875-1942)

Menyatukan NU dan Mathlaul Anwar …………….

7. KH. Abbas (1879-19460)

Mutiara dari Buntet Pesantren ………………………

8. KH. Ridlwan Abdullah (1884-1962)

Pencipta Lambang NU ………………………………

9. KH. Bisri Syansuri (1886-1980)

Tegar dengan Prinsip ……………………………..

10. KH. Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971)

Perintis Tradisi Intelektual NU ………………………

11. KH.R. As'ad Syamsul Arifin (1897-1990)

Tokoh Kharismatik yang Tampil di Saat Kritis …

12. KH. Abdullah Ubaid (1899 1938)

Pendiri Ansor yang Gemar Bersepeda Motor …..

13. KH. Masykur (1900-1992)

Pendiri Barisan Sabilillah dan Penuang yang konsisten

14. KH. Mahfudz Siddiq (1906-1944)

Organisator Ujung dari Pesantren …………………

15. KH. Mahrus Ali (1906-1985)

Kiai Moderat dan "Juru Islah" dari Lirboyo ……

16. KH. Zainal Mustafa (1907-1944)

Pejuang dari Sukamanah ……………………………..

17. KH. Thohir Bakri (1908-1959)

"Gatutkaca" dari Praban ………………………………

18. KH. Muhammad Dahlan (1909-1977)

Pemrakarsa MTQ dan Bedirinya PTIQ …………

19. KH. Muchammad Ilyas (1911-1970)

Cerdas dan Teguh Pendirian …………………………….

20. KH. Abdul Hamid (1333 H-1985 M)

Semua Orang Merasa Paling Disayang …………..

21. KH. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953)

Berprestasi Besar pada Usia Muda …………………..

22. KH. Musthofa (1915-1977)

Ulama Pengarang yang Produktif …………………….

23. KH. Ali Ma'shum (1915-1989)

Mengantarkan Perubahan ………………………………

24. KH. Saifuddin Zuhri (1919-1986)

Santri, Wartawan dan Pejuang ……………………..

25. KH. Achmad Siddiq (1926-1991)

Menjernihkan Hubungan Pancasila dengan Islam….

26. KH.Prof.Dr.Mohammad Tolhah Mansoer (1930-1986)

I n d e x ………………………………………………………………………

RANGKUMAN

Sewaktu utusan Bung Tomo datang menghadap Hadratussyekh Hasyim Asy’ari di kediamannya, Te­buireng, Jombang ..… Menjelang meletusnya pertem­pur­an 10 November 1945 …. Untuk mengabarkan mendaratnya tentara Inggris di Surabaya, Kiai kharismatik ini tampak tertegun. Sang utusan me­nyam­pai­kan pesan Bung Tomo, agar Hadratussyekh mengungsi ke luar kota, untuk menjaga keselamatan. Keadaan memang mencekam. Beberapa orang malah sudah menyingkir ke luar kota.

Dengan halus usulan itu ditolak. Beberapa orang terdekatnya, termasuk para santri, mengira KH. Hasyim Asy’ari punya kesaktian tertentu untuk meng­hadapi tentara Inggris.

Tiba-tiba KH. Hasyim Asy’ari memanggil salah seorang puteranya. “Mana, saya kasih pinjam pistolmu itu,” katanya. Sebuah pistol bermerk Vickers diberikan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Itulah untuk yang perta­ma kalinya pendiri Nahdlatul Ulama ini memegang senjata api.

“Masak dengan senjata ini saya tidak bisa menembak satu-dua orang tentara Inggris yang akan masuk kesini?” ujarnya sambil belajar menembak.

Dugaan bahwa KH. Hasyim Asy’ari akan meng­guna­kan kesaktiannya dalam menghadapi pasukan Inggris meleset. Urusan duniawi dihadapi dengan cara duniawi yang serba kasat mata, logis dan manusiawi.

KH. Hasyim Asy’ari, juga banyak kiai yang lain, pada umumnya memang dipercayai masyarakat memiliki “kekuatan supranatural” atau karomah. “Kekuatan supranatural” itu seperti dipercayai masyarakat, bisa mereka gunakan untuk kepentingan tertentu.

Anggapan masyarakat seperti itu adalah sesuatu yang nyata. Sedangkan jagat kehidupan para kiai yang serba rasional dan manusiawi juga merupakan sesuatu yang nyata pula. Itulah jagat kiai. Sebuah jagat yang terkadang serba rasional dan manusiawi, sebagaimana kehidupan tokoh-tokoh lain, tapi terkadang penuh misteri.

Buku Menapak Jejak Mengenal Watak (Sekilas Biografi 26 Tokoh Nahdlatul Ulama) ini mewartakan banyak hal tentang jagat kehidupan para ulama dengan berbagai segi dan dimensi. Terlepas dari segi-segi yang tergolong rasional dan manusiawi serta segi-segi yang menyimpan banyak misteri dan tidak rasional, biografi para tokoh dan ulama Nahdlatul Ulama ini penuh muatan nilai keteladanan. Karakter hidup diantara tokoh yang satu dan tokoh yang lain mungkin saja berbeda. Tapi ada satu kesamaan … dan itulah pelajaran berharga …. Yang telah ditampilkan dari perikehidupan mereka: hidupnya diabadikan untuk mendidik, berjuang dan ber-amar ma’ruf nahi munkar secara ikhlas.
Selengkapnya...

KH. Abbas (1879-1946)

MUTIARA dari BUNTET PESANTREN

KH. ABBAS
Lahir: di Desa Pekalangan, Ci-
Rebon, Jawa Barat, pada tanggal
24 Zulhijjah 1300 H/1879 M.
Wafat: 1 Rabiul Awal 1365
H/1946 M. Dimakamkan di
Buntet Pesantren.
Pendidikan: Pesantren Sukanasari,
Plered, Cirebon; Pesantren Jatisari;
Pesantren Tegal; Pesantren Tebuireng,
Jombang; Mekkah Mukarramah.
Pengabdian: Pengasuh Pesantren
Buntet, Cirebon; ikut mendirikan
Pesantren Lirboyo, Kediri; dan
dikenal sebagai pejuang.

SETIAP usai shalat Dhuhur atau ashar, sebuah langgar yang berada di Pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, bahkan juga ada yang dari Jawa Tengah. Jangan kaget, mereka bukan para santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan: inilah masyarakat yang hendak meminta ilmu kesaktian pada sang guru.
Sang guru, siapakah gerangan? Dia adalah Kiai Abbas bin KH. Abdul Jamil yang menempati langgar sederhana itu. Di langgar yang beratap genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah Kiai Abbas yang berperawakan agak gemuk dengan kulit sawo matang itu menerima tamu tak henti-hentinya. Saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60 tahun. Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih, selalu menutupi peci putih yang dilengkapi serban ― seperti lazimnya para kiai. Ia tak lagi mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan santrinya. Sebab yang menangani soal itu sudah diserahkan pada kedua adik kandungnya, KH. Anas dan KH. Akyas.(Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kiai ini ada di Buku"MENAPAK JEJAK MENGENAL WATAK,Sekilas Biografi 26 Tokoh NU")



Selengkapnya...

KH. Muhammad Dahlan (1909-1977)

PEMRAKARSA MTQ dan BERDIRINYA PTIQ

KH. MUHAMMAD DAHLAN
Lahir: 2 Juni 1909 di Desa Mandaran,
Rejo, Pasuruan, Jawa Timur
Wafat: 1 Februari 1977. Dimakamkan
Di Taman Makam Pahlawan
Kalibata, Jakarta.
Pendidikan: Pesantren Siwalan,
Panji, Sidoarjo; Pesantren Tebuireng,
Jombang; Mekkah Mukarramah.
Perjuangan/Pengabdian: Pendiri
NU Cabang Bangil; Konsul NU Daerah I
Jatim, anggota Dewan MIAI, anggota
Dewan Partai Masyumi, Ketua Umum PBNU,
Anggota Konstituante, Menteri Agama,
dan anggota DPA.
KALA itu bulan Ramadhan, tahun 1939. Seorang pemuda berusia 30 tahun sedang asyik menelaah sejumlah kitab berbahasa Arab selepas Shalat Tarawih. Hujan deras sejak Magrib yang mengguyur Desa Mandaran Rejo, Pasuruan, Jawa Timur masih menyisakan udara yang cukup dingin, dihembuskan semilir angin pada tengah malam sekitar pukul 22.00.
Tiba-tiba terdengar tabik salam dibarengi ketukan pintu, tanda ada tamu yang bertandang ke rumahnya. Pemuda itu mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumah. Sambil mengingat-ingat siapa tamu yang baru pertama kali dijumpainya, pemuda itu mengamati sosok perawakan sang tamu. Setelah memperkenalkan diri, tahulah tuan rumah, bahwa tamunya adalah kakak kandung sahabatnya ketika ia mengenyam pendidikan di Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, Jawa Timur, sekitar 20 tahunan yang lalu. Sang tamu menceritakan maksud kedatangannya. Sejak tiga hari yang lalu ia menderita sakit gigi, dan sejak lepas Maghrib tadi rasa sakitnya kian menjadi-jadi. Atas saran adiknya, ia bermaksud memohon kesediaan tuan rumah untuk menyembuhkan sakitnya itu.(Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kiai ini ada di Buku"MENAPAK JEJAK MENGENAL WATAK,Sekilas Biografi 26 Tokoh NU")



Selengkapnya...

KH. Bisri Musthofa (1915-1977)

ULAMA PENGARANG yang PRODUKTIF

KH. BISRI MUSTHOFA
Lahir: pada tahun 1915 di Rembang,
Jawa Tengah
Wafat: pada tanggal 16 Februari 1977
Pendidikan: Sekolah “Ongko Loro”;
Pesanren Kajen (3hari); Pesantren
Kasingan, Rembang; Mekkah Mukaramah.
Perjuangan/Pengabdian: Ketua NU;
Ketua Hizbullah; Ketua Masyumi Cabang
Rembang; Kepala Kantor Agama;
Ketua PA Rembang; Anggota Konstituante;
DPRD Jateng; MPRS dan MPR;
Pembantu Menteri Penghubung Ulama;
Anggota Majelis Syura PPP;
Syuriyah NU Wilayah Jateng.


KIAI BISRI adalah figur seorang orator, profil mubaligh yang mendekati sempurna. Seorang kiai pengasuh pesantren dan pengarang yang produktif. Seorang mubaligh yang bisa berbicara mengenai banyak hal, dalam bermacam-macam situasi dan kondisi. Suasana sedih, gembira maupun yang biasa-biasa. Masalah agama, sosial maupun politik. Sejak pemilu tahun 1955, Kiai Bisri telah membuktikan keis¬timewaannya dalam merangkai kata dan menata vokal dengan tone yang mengagumkan, dalam kampanye un¬tuk partai NU. Dan NU, waktu itu, berhasil menjadi partai papan atas setelah PNI dan Masyumi.
Kemampuan panggung Kiai Bisri memang tak terbantah, dan diakui oleh siapapun. Benar apa yang digambarkan oleh KH. Saifuddin Zuhri. Bahwa Kiai Bisri adalah orator, ahli pidato yang dapat mengutara¬kan hal-hal yang sebenarnya sulit menjadi begitu gam¬blang. Mudah diterima orang kota atau orang desa. Hal-hal yang berat menjadi begitu ringan. Yang membosankan menjadi mengasyikkan. Yang kelihat¬an¬nya sepele menjadi amat penting. Kritik-kritiknya sangat tajam, meluncur begitu saja dengan lancar dan menyegarkan. Pihak yang terkena kritik tidak marah, karena disampaikan secara sopan dan menyenangkan. (Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kiai ini ada di Buku"MENAPAK JEJAK MENGENAL WATAK,Sekilas Biografi 26 Tokoh NU")



Selengkapnya...

KH. Muhammad Hasyim Asy'ari (1871-1947)

BAPAK KAUM SANTRI, PEMBELA TANAH AIR
KH. MUHAMMAD HASYIM ASY'ARI
Lahir: pada tanggal 14 Februari 1871,
di Desa Nggendang, Jombang
Wafat: 25 Juli 1947.
Pendidikan: Pesantren Wonokoyo,
Probolinggo; Pesantren Langitan, Tuban;
Pesantren TrenggaLis, Semarang;
Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo;
Mekkah Mukarramah.
Pengabdian: Pengasuh Pesantren
Tebuireng, Jombang; Pemrakarsa
Komite Hijaz; Pendiri NU; Pejuang.

PARA pengungsi itu berbondong-bondong memasuki daerah Jombang. Kota Surabaya sepenuhnya sudah dikuasai Belanda. Bahkan, tentara Belanda sudah mulai menapakkan kakinya di perbatasan Krian, Mojokerto. Saat itulah rombongan utusan Bung Tomo ― pemimpin perjuangan untuk mempertahankan Kota Pahlawan di tahun 1945 itu ― menginjakkan kakinya di pintu gerbang Pesantren Tebuireng.
Lingkungan pesantren saat itu lengang. Utusan yang terdiri dari para lasykar Surabaya langsung masuk menuju kediaman Hadratussyekh KH.Muhammad Hasyim Asy'ari, tokoh spiritual yang secara tidak langsung mengendalikan perlawanan "arek-arek Suroboyo". Para utusan Bung Tomo itu tidak langsung bertatap muka dengan Hadratussyekh lantaran saat itu beliau masih istirahat.
Yang menemui mereka adalah salah seorang putra lelakinya, Yusuf Hasyim (kini pengurus Syuriyah PBNU). Tak beberapa lama, Kiai Hasyim sudah muncul di ruang tamu kediamannya. Tanpa banyak basa-basi, mengingat gentingnya keadaan, para utusan itu menghaturkan pesan Bung Tomo agar Kiai Hasyim segera mengungsi keluar dari Jombang. Jawaban Kiai? Beliau merenung sebentar. Beberapa saat kemudian, pendiri NU ini tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas saran yang disampaikan Bung Tomo atas dirinya. (Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kiai ini ada di Buku"MENAPAK JEJAK MENGENAL WATAK,Sekilas Biografi 26 Tokoh NU")

Selengkapnya...

MEMBENTENGI AHLUSSUNAH WAL JAMA'AH
KH. R. ASNAWI
Lahir: pada tahun 1861,di Kudus, Jawa TengahWafat: 26 Desember 1959,Dimakamkan di Masjid Menara KudusPendidikan: Pesantren Mangunsari,Tulungagung, Jawa Timur;Pesanten Mayong, Jepara, Jawa Tengah;Mekkah MukarramahPengabdian: Komisaris SI Cabang Mekkah,pendiri Madrasah Kudsiyah di Kudus;pendiri NU dan seorang Mustasyar periodepertama; pengasuh pesantren di Kudus;pejuang dan mubaligh yang berani.SUATU hari, Hadratussyekh Hasyim Asy'ari merasa musykil ketika membaca sehelai surat yang disodorkan oleh puteranya, H. A. Wahid Hasyim. Kepada puteranya yang saat itu detemani oleh Saifuddin, pemimpin Ansor Banyumas, beliau memperlihatkan bagian-bagian isi surat yang dirasa amat berat. Kepada teman puteranya itu beliau menunjukkan surat berbahasa Arab tersebut dan mengatakan: "Aku merasa susah sekali, karena guru saya ini marah kepada saya. Masalahnya, karena saya mengizinkan terompet dan genderang yang dipakai anak-anak kita, Pemuda Ansor, padahal guru saya ini mengharamkan…."Demikian sekelumit cerita yang dicatat KH. Saifuddin Zuhri dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren. Saat itu buat pertama kalinya dia bertemu Hadratussyekh Hasyim Asy'ari di kediamannya, Pesantren Tebuireng. Dalam Perjalannya menghadiri Muktamar NU ke-15 di Surabaya ia diminta oleh HA. Wahid Hasyim untuk mampir ke sana. Adapun orang yang dikatakan oleh Hadratussyekh sebagai gurunya yang mengirim surat tersebut tak lain adalah KH.R. Asnawi, salah seorang ulama sepuh, pendiri NU dari Kudus.Meskipun tidak pernah menjadi muridnya langsung, Hadratussyekh menganggap KH.R. Asnawi sebagai gurunya. Yang segera tampak dari kisah tadi, bahwa watak dan sikap KH. R. Asnawi begitu tegas dan konsisten dalam melihat persoalan. Sesuai dengan teks yang termaktub dalam kitab fiqh, maka begitu pula pendapatnya yang harus diamalkan ― termasuk mengenai terompet dan genderang. (Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kiai ini ada di Buku"MENAPAK JEJAK MENGENAL WATAK,Sekilas Biografi 26 Tokoh NU")



Selengkapnya...

KH. R. AS’AD SYAMSUL ARIFIN

TOKOH KHARISMATIK yang TAMPIL di SAAT KRITIS
KH. R. AS’AD SYAMSUL ARIFIN
Lahir: pada tahun 1879 di Kota
Suci Mekkah, dan boyong ke Kampung
halaman, Pamekasan, Tahun 1901.
Wafat : 4 Agustus 1990.
Pendidikan: Pesantren Guluk-guluk
dan Pesantren Bangkalan, Madura;
Pesantren Tebuireng, Jombang;
Pesantren Sidogiri, Pasuruan;
Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo,
Jawa Timur; Mekkah Mukarramah.
Pengabdian : Pengasuh Pesantren
Sukorejo, Banyuputih, Situbondo;
anggota DPRD Situbondo;
anggota Konstituante; Mustasyar PBNU.

DUNIA ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah…….
Syair lagu penyanyi kribo Ahmad Albar itu agaknya cukup tepat untuk menggambarkan kehidupan KH. R. As’ad Syamsul Arifin. Sampai awal 1982 nama Kiai As’ad, panggilan akrabnya, belum ‘berbunyi’. Kalaupun kedengaran berbunyi paling-paling baru sayup-sayup sampai ke telinga masyarakat. Tapi, pertengahan 1982 tiba-tiba namanya muncul sebagai pemain utama dalam pentas kehidupan nasional. Bukan hanya di pentas kaum ‘sarungan’, tapi juga di pentas kaum ‘berdasi’ dan ‘bersafari’. Namun, seperti nyanyian Ahmad Albar, jalan cerita cepat sekali berubah. Secepat kemunculan Kiai As’ad di pentas, secepat itu pula Kiai As’ad surut dari pentas.
Tanggal 2 Mei 1982 tercatat sebagai tanggal bersejarah bagi Kiai As’ad. Saat itulah pemunculannya di pentas nasional dimulai. Bersama Kiai Ali Ma’shum (mantan Rais ‘Aam PBNU, pengasuh dan pimpinan Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta) dan Kiai Machrus Ali (pengasuh dan pimpinan Pesantren Lirboyo), Kiai As’ad saat itu menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (ketika itu) Dr. KH. Idham Chalid. Dari pertemuan di kediaman Idham Chalid itu lahir pernyataan pengunduruan diri Idham Chalid sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ula¬ma (PBNU).
Pernyataan pengunduruan diri itu menghebohkan, bukan saja di kalangan NU, tapi juga masyarakat dan bangsa Indonesia pada umumnya. Maklum saja, saat itu Idham Chalid masih menjabat sebagai Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Kehebohan itu bertambah-tambah ketika Idham Chalid mencabut kembali pernyataan pengunduran dirinya pada tanggal 14 Mei 1982. (Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kiai ini ada di Buku"MENAPAK JEJAK MENGENAL WATAK,Sekilas Biografi 26 Tokoh NU")
Selengkapnya...

KH. Thohir Bakri (1908-1959)

"GATUTKACA" dari PRABAN

KH. THOHIR BAKRI
Lahir: pada tahun 1908, di
Praban, sebelah selatan Tugu
Pahlawan, Surabaya, Jatim
Wafat : 26 Juli 1959.
Pendidikan: Pesantren Peterongan,
Jombang; Pesantren Tebuireng,
Jombang, Jatim;
Pengabdian : Wakil Ketua Subbanul
Wathan; Bendahara Da’watus Syubban;
Ketua NU Surabaya; Perintis GP Ansor;
Ketua Sarbumusi Surabaya; Presiden
Hoofd Bestuur Nahdlatul Oelama
Afdeeling ANO; Kepala KUA Surabaya;
Anggota Konstituante.

“SEPERTI kemarin saja kejadiannya, kalau saya mengingat rame-rame di Gedung Bubutan VI/2 Surabaya, sekretariat ANO (Ansor Nahdlatul Oelama). Padahal itu semua sudah 23 tahun yang lalu. Kalau saya datang ke Surabaya menemui beliau di Bubutan VI/2, selalu saja beliau berada di kantor, ketrak-ketruk menghadapi mesin tulis. Dan, kalu saya lihat dari belakang, beliau itu lagi mengerjakan tugas membalas surat-surat dari cabang-cabang ANO seluruh Indonesia. Kebanyakan beliau kerjakan sendiri, sebab Bung Umar Burhan, sekretarisnya yang hitam manis itu, sibuk pula dengan tugas lain.”
Itulah sebuah artikel, ditulis oleh H.A.A. Achsien di harian Duta Masyarakat 11Agustus 1959, mengenang KH. Thohir Bakri. Tulisan tersebut tidaklah berlebihan. Selama hayatnya, waktu, tenaga dan pikiran Thohir Bakri, hampir seluruhnya dicurahkan untuk kepentingan organisasi Ansor dan NU.
KH. Ahmad Abdul Hamid (sekarang Mustasyar PBNU), begitu membaca tulisan H.A.A. Achsien, dan namanya disebut-sebut sebagai sahabat karib yang sebaya dengan Thohir Bakri, segera membuat beberapa catatan pengalamannya bersama kawannya. Tulisan¬nya juga dimuat di harian milik NU itu, dua minggu kemudian.
“Waktu itu,” cerita Kiai Ahmad, “kebetulan bulan Ramadhan. Ia bersama saya mondok di Tebuireng, Jombang mengaji kitab Hadits Buchori kepada Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Selama di pondok ia selalu mengungkapkan angan-angannya, kapankah santri-santri di seluruh Indonesia bisa menjadi anggota ANO, lengkap dengan pakaian uniformnya. Berkali-kali ia menjumpai KH. Wahid Hasyim di gotakannya guna meminta nasihat tentang hal itu.” (Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kiai ini ada di Buku"MENAPAK JEJAK MENGENAL WATAK,Sekilas Biografi 26 Tokoh NU")
Selengkapnya...

Mukadimah

PENDAHULUAN

Memikirkan keadaan gengerasi yang akan datang adalah menjadi tanggung jawab bersama. Generasi yang dimaksudkan, adalah generasi yang akan mengalami banyak perubahan dan perkembangan situasi. Generasi yang akan datang itu harus diikhtiarkan agar tetap menjadi generasi penerus yang memiliki sifat- sifat "insan kamil", yaitu manusia paripurna. Generasi yang mampu membangun kesejahteraan atau kemaslahatan di lingkungan keluarga ("mashaalihul 'usroh") dan membantu mewujudkan kemaslahatan masyarakat umum ("mashaalihul 'ummah")
Pemikiran tentang generasi yang akan datang, tidak bisa lain kecuali menyiapkan dan melaksanakan suatu konsepsi generasi penerus dengan landasan semata-mata ketaqwaan kepada Allah SWT sebagaimana difirmankan dalam Al Qur'an (Surat An Nissa' : 9) yang artinya :
"Dan hendaknya takut kepada Allah, orang-orang yang kalu saja meninggalkan di belakang mereka anak cucu yang lemah yang mereka sendiri khawatir akan kesejahteraan hidup mereka di kelak kemudian hari. Oleh sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah yang benar".

Agama Islam menamakan dirinya sebagai "rahmatan lil 'alamin", rahmat sejahtera dan mashlahatan bagi seluruh alam. Semua perintah-perintah Islam semata-mata untuk tujuan kemaslahatan bersama.

Terdorong oleh kebutuhan untuk mencapai kemaslhatan bersama dengan cara membantu mempersiapkan terwujudnya generasi penerus yang lebih baik, maka didirikanlah Yayasan Saifuddin Zuhri pada tanggal 25 Februari 1987 bertepatan dengan 26 Jumadil Akhir 1407 H.


TUJUAN

Tujuan Yayasan Saifuddin Zuhri adalah membantu mencerdaskan manusia Indonesia melalui kegiatan pendidikan, pengajaran, pengkajian dan penerbitan untuk mempertebal ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata'ala dalam rangka meningkatkan pengabdian kepada Agama, Bangsa dan Negara.


IKHTIAR DAN PROGRAM

Untuk mencapai tujuannya, Yayasan Saifuddin Zuhri menjalankan kegiatan-kegiatannya antara lain :

1. Melaksanakan ikhtiar-ikhtiar guna membantu mewujudkan lingkungan yang menunjang kelancaran proses belajar-mengajar untuk mencerdaskan anak usia sekolah.
2. Membantu memperbanyak dan meningkatkan mutu sarana pendidikan dan pengajaran.
3. Melakukan penelitian, kajian, penerjemahan, penulisan dan penerbitan berkaitan dengan upaya pengenalan dan/atau pemecahan masalah keagamaan, kebangsaan dan kemasyarakatan.
4. Melaksanakan pendidikan, latihan dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia agar dapat lebih mandiri.
5. Menjalankan kegiatan-kegiatan lainnya yang dianggap perlu untuk mencapai tujuan Yayasan Saifuddin Zuhri.

Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk berbagai program antara lain :

1. .Program pengadaan dan perbaikan sarana pendidikan.
2. .Program beasiswa bagi anak berbakat.
3. .Program peningkatan dan pengembangan guru berbakat.
4. .Program belajar sholat dan membaca Al Qur'an.
5. .Program latihan keterampilan berprestasi melalui karya tulis-menulis
6. .Program pemberantasan buta aksara dan peningkatan berbahasa Indonesia.
7. .Program pengadaan bahan pustaka untuk perpustakaan sekolah dan pesantren.
8. .Program tukar-menukar bahan pustaka.
9. .Program penerjemahan dan pengadaan bahan pustaka langka.
10. Program kajian tentang pengembangan sumberdaya manusia dan pemeliharaan lingkungan hidupnya.
11. Program kajian tentang dinamika proses belajar-mengajar.
12. Program kajian tentang pengembangan kelembagaan dan kehidudpan pondok pesantren.
13. Program kajian tentang kehidupan beragama dan pengembangan masyarakat.




PROGRAM
PENINGKATAN KAPASITAS KELEMBAGAAN PESANTREN
UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT YANG TELAH DILAKUKAN
YAYASAN SAIFUDDIN ZUHRI


(Dari tahun 1998 s.d. 2005)
Selengkapnya...

KH. Achmad Siddiq (1926-1991)

MENJERNIHKAN HUBUNGAN PANCASILA dengan ISLAM

KH. ACHMAD SIDDIQ
Lahir: 24 Januari 1926, di Jember,
Jawa Timur.
Wafat: 23 Januari 1991.
Dimakamkan Di pemakaman auliya, Desa Ngadi,
Mojo, Kediri, Jawa Timur.
Pendidikan: Pesantren As-Siddiqiah
Jember, Jatim; Pesantren Tebuireng,
Jombang, Jatim.
Pengabdian/Perjuangan: Kepala
KUA Situbondo; Ka-Kanwil Depag
Jawa Timur; Pengasuh Pesantren
As-Shiddiqiyah Jember; Rois Aam
PBNU; Anggota DPA; Anggota BPPN.(Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kiai ini ada di buku "MENAPAK JEJAK MENGENAL WATAK,Sekilas Biografi 26 Tokoh NU")
­ Selengkapnya...

Selengkapnya...


KH. Saifuddin Zuhri
memberi sambutan pada
acara Harlah NU ke-40, tahun 1966...
Selengkapnya...

KH. Saifuddin Zuhri


Dari kiri ke kanan; Delegasi Afrika disambut oleh KH. Saifuddin Zuhri beserta isteri dalam acara Konperensi Islam Asia Afrika, di Bandung, 6-12 Maret 1965 Selengkapnya...

KH. Saifuddin Zuhri


KH. Saifuddin Zuhri (no. tiga dari kanan) bersama Delegasi Indonesia lainnya yang dipimpin oleh Presiden Soekarno, akan bertolak untuk menghadiri Konperensi Asia Afrika II di Aljazair, 26 Juni 1965 Selengkapnya...

KH. Saifuddin Zuhri


KH. Saifuddin Zuhri (kanan) sedang menyematkan lencana penghargaan kepada peserta Muktamar ke XXIII Partai NU, di Solo, 25-29 Desember 1962 Selengkapnya...

KH.Saifuddin Zuhri


KH.Saifuddin Zuhri (paling kanan) menyambut kedatangan Presiden RI,Ir.Soekarno (berpayung) pada acara Pembukaan Muktamar ke-XXIII Partai NU,di Solo,25-29 Des-1962 Selengkapnya...

KH. Saifuddin Zuhri


KH. Saifuddin Zuhri (paling kiri) sedang mendengarkan pandangan umum yang disampaikan salah satu delegasi pada Konperensi Asia Afrika II di Ajazair, 26 Juni 1965 Selengkapnya...

KH. Saifuddin

KH. Saifuddin memberikan gelar Doktor Honoris Causa Bidang Da'wah kepada Presiden RI Ir. Soekarno, pada tanggal 02 Desember 1964
Selengkapnya...

KH. Saifuddin Zuhri (1919-1986)

SANTRI, WARTAWAN dan PEJUANG
KH. SAIFUDDIN ZUHRI

Lahir: 1 Oktober 1919, di Kawedanan,
Sukorejo, Banyumas, Jawa Tengah
Wafat: 25 Februari 1986.
Pendidikan: SD-MI, Madrasah
Manbaul Ulum dan Salafiyah,
LP Al-Islam, Solo.
Pengabdian: Konsul daerah Ansor
Dan NU Jateng; Komandan Hizbullah;
Anggota KNPI; Sekjen Partai NU;
Mustasyar PBNU; Ketua DPP PPP;
Menteri Agama; Anggota DPR; Guru
Besar IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta;
Rektor IAI Al-Akidah; Pelopor
Pengembangan IAIN; Pemimpin Umum
/Redaksi “Duta Masyarakat”.
Mohammad Zainuddin Dahlan, tokoh masyarakat di daerah Purworejo, Jawa Tengah, sudah sejak lama memendam keinginan yang besar sekali untuk menunaikan ibadah haji. Keinginan tersebut tidak pernah dikemukakan pada siapapun. Sebenarnya, sebagai seorang yang dianggap tokoh yang telah banyak mengabdikan diri kepada masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan dan keagamaan, sudah sewajarnya jika ada instansi tertentu membantu Zainuddin untuk mewujudkan cita-citanya menunaikan rukun Islam kelima, misalnya Departemen Agama. Instansi ini lazim menghajikan orang-orang tertentu, baik sebagai hadiah maupun kepentingan sebagai petugas haji. Zainuddin juga dikenal sebagai seorang pejuang. Karena itu, ditinjau dari berbagai segi, sudah sangat layak jika Departemen Agama menghajikan Zainuddin Dahlan. Ketika itu Departemen Agama dipimpin KH. Saifuddin Zuhri.

Suatu hari untuk suatu keperluan datanglah Zainuddin Dahlan menemuni Menteri Agama Saifuddin Zuhri. Dalam kesempatan pertemuan itu, sepintas lalu dengan cara yang sangat halus ia mengutarakan keinginannya bisa menunaikan ibadah haji dan menjajaki kemungkinan berhaji “Abidin” (atas biaya dinas), alias dibiayai Depag. “Sebagai kakak (ipar), masak sih KH. Saifuddin Zuhri tidak membantu,” demikian pikir Zainuddin kala itu, optimistis. Oleh masyarakat sekitar, Zainuddin dikenal sebagai seorang yang suka menolong kepada sesama terutama mereka yang datang padanya. Tetapi sebaliknya, Zainuddin dikenal sangat "kstaria”, dalam arti tidak pernah minta uluran tangan orang lain, walaupun sebenarnya dalam keadaan memerlukan bantuan orang lain.
Ketika Zainuddin menyampaikan keinginannya, KH. Saifuddin Zuhri mendengarkan dengan tenang. Mimiknya tidak berubah. Berhasilkah Zainuddin? (Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kiai ini ada di Buku"MENAPAK JEJAK MENGENAL WATAK,Sekilas Biografi 26 Tokoh NU")
Selengkapnya...

KH. Thohir Bakri (1908-1959)

"GATUTKACA" dari PRABAN

KH. THOHIR BAKRI
Lahir: pada tahun 1908, di
Praban, sebelah selatan Tugu
Pahlawan, Surabaya, Jatim
Wafat : 26 Juli 1959.
Pendidikan: Pesantren Peterongan,
Jombang; Pesantren Tebuireng,
Jombang, Jatim;
Pengabdian : Wakil Ketua Subbanul
Wathan; Bendahara Da’watus Syubban;
Ketua NU Surabaya; Perintis GP Ansor;
Ketua Sarbumusi Surabaya; Presiden
Hoofd Bestuur Nahdlatul Oelama
Afdeeling ANO; Kepala KUA Surabaya;
Anggota Konstituante.

“SEPERTI kemarin saja kejadiannya, kalau saya mengingat rame-rame di Gedung Bubutan VI/2 Sura¬ba¬ya, sekretariat ANO (Ansor Nahdlatul Oelama). Padahal itu semua sudah 23 tahun yang lalu. Kalau saya datang ke Surabaya menemui beliau di Bubutan VI/2, selalu saja beliau berada di kantor, ketrak-ketruk menghadapi mesin tulis. Dan, kalu saya lihat dari belakang, beliau itu lagi mengerjakan tugas membalas surat-surat dari cabang-cabang ANO seluruh Indonesia. Kebanyakan beliau kerjakan sendiri, sebab Bung Umar Burhan, sekretarisnya yang hitam manis itu, sibuk pula dengan tugas lain.”
Itulah sebuah artikel, ditulis oleh H.A.A. Achsien di harian Duta Masyarakat 11Agustus 1959, mengenang KH. Thohir Bakri. Tulisan tersebut tidaklah berlebihan. Selama hayatnya, waktu, tenaga dan pikiran Thohir Bakri, hampir seluruhnya dicurahkan untuk kepentingan organisasi Ansor dan NU.
KH. Ahmad Abdul Hamid (sekarang Mustasyar PBNU), begitu membaca tulisan H.A.A. Achsien, dan namanya disebut-sebut sebagai sahabat karib yang sebaya dengan Thohir Bakri, segera membuat beberapa catatan pengalamannya bersama kawannya. Tulisan¬nya juga dimuat di harian milik NU itu, dua minggu kemudian.
“Waktu itu,” cerita Kiai Ahmad, “kebetulan bulan Ramadhan. Ia bersama saya mondok di Tebuireng, Jombang mengaji kitab Hadits Buchori kepada Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Selama di pondok ia selalu mengungkapkan angan-angannya, kapankah santri-santri di seluruh Indonesia bisa menjadi anggota ANO, lengkap dengan pakaian uniformnya. Berkali-kali ia menjumpai KH. Wahid Hasyim di gotakannya guna meminta nasihat tentang hal itu.” (Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kiai ini ada di Buku"MENAPAK JEJAK MENGENAL WATAK,Sekilas Biografi 26 Tokoh NU")
Selengkapnya...

 

Album

KH. Saifuddin Zuhri memberi sambutan pada acara Harlah NU ke-40, tahun 1966...

Album

KH. Saifuddin memberikan gelar Doktor Honoris Causa Bidang Da'wah kepada Presiden RI Ir. Soekarno, pada tanggal 02 Desember 1964

bingkai foto

Album

KH. Saifuddin Zuhri (no. tiga dari kanan) bersama Delegasi Indonesia lainnya yang dipimpin oleh Presiden Soekarno, akan bertolak untuk menghadiri Konperensi Asia Afrika II di Aljazair, 26 Juni 1965